10 dari 70 Tips Renungan Meditasi (6)

10 dari 70 Tips Renungan Meditasi (6)
Share

51. Menuju Universalitas

Tanpa mengenal batin Anda sendiri, Anda tak mungkin bisa memanfaatkannya secara optimal. Anda memang harus mengenalnya dulu sebelum Anda benar-benar mengembangkannya untuk bisa memanfaatkan kekuatannya.

Batin yang telah dikembangkan adalah batin yang meluas, yang telah menyingkirkan sekat-sekat yang membatasinya. Batin yang telah mengembang adalah batin yang lapang, yang leluasa, yang bebas, yang tak lagi terbatasi pun berkehendak membatasi. Dan hanya apabila batin Anda telah sedemikian berkembangnyalah baru Anda berkompeten untuk berbicara masalah universalitas. Sebelum itu, bahkan makna yang sesungguhnya dari kata ‘universal’ itu sendiri belum sepenuhnya mampu dipahami.


52. Pengembangan Intuisi

Intuisi dikembangkan lewat meditasi. Bahkan mereka yang terpelajarpun seringkali mengelirukannya dengan naluri. Kendati mereka sama-sama fenomena batin, yang juga sama-sama kita bawa bersama dengan kelahiran berjasad manusia ini, namun naluri merupakan “sisa” dari aspek kebinatangan kita. Seperti juga hawa-nafsu, naluri mencirikan kebinatangan kita.

Sebaliknya, intuisi yang dikembangkan lewat meditasi merupakan aspek kedewataan kita. Anda tidak bisa mengharapkan munculnya kedewataan, sementara enggan melepas, apalagi malah semakin mesra dengannya. Oleh karenanya, laku spiritual (sadhana) seperti tapa-brata dilaksanakan oleh penekun atas dasar prinsip ini. Tapa-brata, mengikis kebinatangan Anda. Di dalam Veda-Veda dan yogashastra- yogashastra ia diposisikan sebagai laku ‘pensucian batin’, sebagai laku ‘peleburan dosa’.


53. Mempertemukan Anda Dengan-Nya

Anda boleh saja mengatakan: “Saya bermeditasi untuk mencapai Tuhan, untuk menyatu dengan Tuhan”. Itu bagus ; sebuah ideasi yang perfect. Akan tetapi, sadarkan Anda bahwa Anda tak bisa mencapai sesuatu yang tak Anda ketahui, yang tak terpikirkan dan tak terbayangkan Itu.

Kata ‘mencapai’ seringkali dikonotasikan terhadap sesuatu yang di luar sana, bahkan boleh jadi yang amat sangat jauh di atas sana. Ini satu masalah besar lainnya bagi para ‘pencari atau ‘pendamba’ Tuhan.

Kemana Anda akan mencari-Nya ? Mungkinkah Anda mencari, apalagi menemukan, sesuatu yang tak Anda ketahui samasekali ? Jangan gegabah saudaraku. Jangan terlalu muluk-muluk dulu; ketahuilah, kenalilah, pahamilah diri Anda sendiri dulu dengan sebaik-baiknya. Setelah itulah kita akan dipertemukan dengan-Nya.


54. Kemusnahan Eksternalitas

Ketika Anda merasakan diri Anda benar-benar lebur menyatu dengan alam, bukan hanya sebagai bagian dari alam namun alam ini sendiri; Anda ada tercerap dalam batin meditatif.

Di sini kata-kata kehilangan maknanya, oleh karenanyalah ia tak Anda perlukan lagi. Di sini Andalah ruang itu, waktu itu, kondisi juga kausalitas itu. Anda tak lagi melihat semua itu sebagai yang di luar sana. Bahkan kata ‘di luar’ pun menjadi kehilangan maknanya bagi Anda. Di sini tak ada lagi eksternal maupun internal. Bila semuanya internal, apakah ada yang disebut eksternal ? Pada saat yang bersamaan, apakah kata “aku”, “kamu” dan “dia” masih punya makna, sejauh mereka hanya rekaan dari batin yang terkondisi ?


55. Lebur Dalam Kesatuan

Seperti juga “aku” dan “kamu” lebur menjadi “kita”, “aku” dan “mereka” lebur menjadi “kami”, demikianlah sang diri kecil nan semu lebur menyatu Sang Diri Agung yang melingkupi segalanya, dalam Samadhi.

Dalam Yoga Sutra Patanjali, rangkaian proses menuju peleburan ini disebut samyama. Ia merupakan suatu aliran berkelanjutan, sejak terjadinya keterpusatan mental (dharana), aliran perhatian yang terus menerus dalam kesadaran (dhyana) dan panunggalan itu sendiri (Samadhi). Manakala itu tercapai, maka tercapai pulalah ‘tujuan’ meditasi Anda. Di sini ‘mencapai’ bertransformasi menjadi ‘menjadi’.

Itu bisa Anda awali dengan, apa yang disebut dengan, “fase penyederhanaan”. Secara eksternal, ia bisa tampak sebagai hidup sederhana. Akan tetapi, secara internal –dan justru inilah yang terpenting – ia merupakan penyederhanaan dari segala bentuk keinginan. Keinginan-keinginan itulah yang melahirkan beraneka bentuk pemikiran serta gelora perasaan. Pikiran tiada lain dari wadah beraneka bentuk mental serupa itu; ia diperlukan karena ada yang mesti diwadahi, ada yang perlu ditampung. Bersamaan dengan musnahnya keinginan, musnah pulalah si pikiran. Dan fenomena kemusnahan inilah yang disebut manonasa.

Fase penyederhanaan ini diawali dengan berlatih menarik atau membalik arah perhatian ke dalam, di mana ini juga secara otomatis berarti peniadaan kontak-kontak indriyawi dan dicapainya kedamaian batin (shanti). Nah, dari sinilah sebetulnya meditasi kita ini melangkah dengan penuh kesadaran, sebagai landasannya.


56. Beberapa Ciri Kemajuan

Hasrat untuk mengetahui “apakah kita telah cukup maju dalam latihan kita selama ini”, memang merupakan suatu hasrat yang wajar di kalangan penekun. Agaknya telah dipahami, kemajuan dalam laku spiritual tidak selamanya hanya diukur dari pengalaman-pengalaman supranatural seperti pendengaran tembus (divyasrota), penglihatan tembus (divyachaksu), membaca pikiran orang atau makhluk lain, maupun dari penguasaan siddhi-siddhi.

Kemajuan berupa perbaikan prilaku atau komposisi karakter dasar penekun dibanding sebelumnya, seharusnya juga diposisikan sebagai indikator penting dari kemajuannya. Aspek kemajuan ini, bukan saja terkait dengan si penekun sendiri, namun ia juga berdampak baik bagi orang-orang di sekitarnya, terutama yang berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung dengan si penekun. Apa saja itu ?

Mereka antara lain: kondisi batin yang seimbang, kejujuran, sikap terbuka, rasa belas kasihan, kepedulian dan tidak mementingkan diri sendiri, bebas dari atau semakin menipisnya pretensi, keangkuhan, prasangka dan pola-pikir dogmatis, menurut Sri Swami Shivapremananda, merupakan beberapa sifat baik yang dicapai oleh mereka yang mengalami kemajuan dalam meditasi.


57. Memahami Karakter Si Pikiran

Kendati batin bukanlah semata-mata pikiran, namun dalam banyak aspek kerja batiniah, pikiran ternyata sangat dominan. Oleh karenanyalah, pengendalian-pikiran menjadi sadhana penting dalam meditasi.

Untuk bisa benar-benar mengendalikannya, sebetulnya kita diharus “menjinakkannya” terlebih dahulu. Sedangkan untuk dapat “menjinakkannya”, kita perlu “mengetahui” karakter-karakter dasarnya. Beberapa karakter dasarnya, erat kaitannya dengan bentuk, jenis, serta intensitas dari keinginan-keinginan kasar maupun halus yang biasa dipertontonkannya. Nah, semua inilah yang perlu kita amati ke dalam. Lewat pemusatan perhatian ke dalam, kewaspadaan serta kecermatan, mereka teramati dengan baik.

Dengan mengamatinya secara seksama, akan kita ketahui sendiri bahwa pikiran merupakan aspek aktif dari batin kita. Ia mudah berubah, meloncat-loncat seperti kera serta tak jarang berontak untuk menjadi liar. Sangat sulit untuk didiamkan dengan paksa, ia malah berontak; maunya hanya berbuat sekehendak hatinya saja. Nah, “mahluk” seperti inilah yang harus dikendalikan dalam meditasi. Adakah yang seperti ini bisa Anda serahkan kepada orang lain untuk dikerjakan bagi Anda ?


58. Penyikapan yang Tepat Terhadap Si Pikiran

Ada sebuah parabel yang sangat mengena dari Sri Swami Sivananda, dalam berurusan dengan si pikiran ini. Kisahnya begini:

Seorang lelaki pergi berjalan-jalan dengan ‘doggie’nya yang cantik. Ia sedemikian bangganya akan doggie-nya itu. Si doggie selalu berjalan di depannya. Lelaki itu membawa payung. Untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa doggie kesayangannya akan melakukan apa saja baginya, ia menyuruh doggie-nya membawa dengan menggigit payungnya itu. Dengan bangganya si doggie-pun berjalan di depan , seraya menggigit bagian tengah dari payung itu.

Tiba-tiba hujan turun. Si lelaki pembangga itu perlu menggunakan payungnya. Akan tetapi si doggie berada seratus yard di depannya. Ia berlari menghampirinya. Si doggie tidak mengerti mengapa tuannya mengejar tidak seperti biasanya; ia merasa takut, dan lari sekencang-kencangnya ke rumah. Al hasil, si lelaki pembangga itu basah kuyup sekujur tubuhnya, sebelum sampai di rumah dan memperoleh kembali payungnya itu.

Sang Jiva (baca jiwa), dibutakan oleh kebanggaan dan kebodohan dengan mempercayakan kesadaran spritualnya pada si pikiran. Untuk beberapa lama si pikiran tampak berjalan di depan dan membimbing Sang Jiva; dan kesadaran ada dalam keadaan tergenggam kuat oleh si pikiran, namun untuk sementara waktu Sang Jiva memang merasa cukup aman dalam kondisi ini. Ada “hujan lebat” penderitaan dalam kehidupan duniawi ini disertai berbagai godaan objek-objek sensasi. Sementara, si doggie-pikiran bersama dengan “payung” kesadaran spiritualnya terpisah amat jauh dari Sang Jiva.

Bila saja payung-kesadaran spiritual tidak dipercayakan begitu saja pada si pikiran (yang tiba-tiba tak benar-benar dapat dimanfaatkan sesuai keperluan), sang Jiva mesti mampu melindungi dirinya dari hujan lebat berbagai penderitaan dan cobaan-cobaan. Namun kini, dengan mempercayakan kesadaran pada pikiran, semakin cepat ia berlari untuk berlindung padanya, semakin jauh pula perlindungan yang diharapkan itu.

Oleh karenanya, bertekadlah untuk tidak sepenuhnya mempercayakan kesehatan dan kesejahteraan spiritual Anda pada si pikiran, yang tidak dapat diandalkan sepenuhnya. Ia paling tak dapat digantungi. Ia akan desersif saat cobaan-cobaan datang mendera. Belajarlah hanya mempercayai Tuhan saja. Jadikanlah Beliau sebagai pendukung Anda satu-satunya.
[Dipetik dan dialih-bahasakan dari PARABLES OF SIVANANDA]


59. Bukan Bagi Para Pemalas dan Pengecut

Mungkin sering kita dengar, dengan memasang ekspresi arif seseorang berkata: ”Serahkanlah kepada Tuhan; kita hanya mampu berbuat, namun beliaulah yang menentukan.”

Ini memang terdengar arif, karana memang arif dan hanya di telinga yang cukup arif. Namun bagi seorang pemalas, bagi yang selalu enggan dalam bertindak, bagi yang guna tamas-nya sangat dominan; apa yang mungkin terjadi ?

Ingat, obat betapapun manjurnya, hanya akan bermanfaat bagi orang yang tepat, dengan penyakit yang tepat dan diminum dalam dosis yang tepat pada waktunya. Setiap obat tidak bagi semua jenis penyakit. Penyakit malas malah menjadi tambah parah oleh sebentuk ungkapan arif tadi. Baginya, justru diperlukan anjuran-anjuran yang rajasik yang bersifat rajasik, yang bersemangat, yang ambisius, yang aktif dalam takaran tertentu. Ini dibutuhkan guna merangsang kearifannya; inilah sesungguhnya pengejawantahan sifat sattvika itu.

Meditasi bukan bagi para pemalas dan pengecut. Ia akan mengangkat siapa saja dari kemalasan dan kepengecutan itu. Ia akan menyadarkan kita dari rasa-iba dan pemanjaan-diri selama ini. Bagi yang terbiasa hidup mewah, kehidupan sederhana, hemat dengan memanfaatkan apa yang ada boleh jadi tampak sedemikian menakutkan. Ini tak kurang menakutkan dari mendengar auman singa lapar baginya. Bagi mereka yang terbiasa sangat aktif, akan merasa enggan sekedar untuk duduk dan mengamati yang terjadi di dalam, kendati barang sejenak.


60. Masalah Berguru

Mungkin masih ada yang balik bertanya: “Lantas di mana peran Guru, bila semuanya kita lakukan sendiri dan secara mandiri ?”. Peran beliau sangat banyak dan sangat besar di sini. Dari mana kita mengetahui semua ini adalah dari Guru; ini tak dapat kita pungkiri. Dari tak tahu menahu masalah meditasi, menjadi tahu, bahkan telah mempraktekkannya; dan ini tentu karena adanya peran penting Guru.

Pernah kita alami bersama, di mana hanya untuk mengucapkan satu dua patah-katapun kita perlu belajar; kita berguru. Jangan pernah lupa itu; kita senantiasa berguru dan berguru, belajar dan belajar seumur hidup. Dan ini adalah fakta kehidupan kita yang tak mungkin kita pungkiri. Semua Guru, “tadinya” juga berguru; terlepas apakah ia ingat akan hal itu atau tidak. Jadi kita tak perlu sedemikian tinggi-hatinya dan munafik untuk mengatakan bahwa “ Saya berguru langsung kepada Tuhan; oleh karenanya saya tak perlu Guru manusia”. Percayalah, bila tiba saatnya nanti, Anda malah akan sangat malu bila mengingat pernyataan Anda itu.

0 Response

Post a Comment

Silahkan berkomentar mengenai posting di atas. Terima kasih telah mengunjungi Excellent Education. Semoga Bermanfaat. :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel