Berbanggalah Menjadi Seorang Anak Mama

Berbanggalah Menjadi Seorang Anak Mama
Share
Ibu memiliki posisi yang mulia dalam sebuah keluarga. Kemuliaannya tercermin dari perjuangannya ketika mulai mengandung, melahirkan hingga merawat anak-anaknya dengan cara yang terbaik. Meskipun jiwa dan raga menjadi taruhannya.

Islam memandang ibu memiliki peran utama dalam mendidik anak-anaknya. Rasulullah pernah bersabda,
“Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Ibumu,” jawab beliau. Kembali orang itu bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanya orang itu lagi. “Kemudian ayahmu,” jawab Rasulullah.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut hadist tersebut, Rasulullah menyebutkan ibu sebanyak tiga kali sedangkan ayah hanya sekali. Hal ini berarti bahwa kapasitas ibu dalam mendidik anak-anaknya lebih besar tiga kali lipat dari ayah.

Hal ini juga terdapat dalam diri Mama, begitu aku memanggilnya. Sosok yang hebat disamping bapak dengan tiga buah hatinya yang setiap waktu selalu berusaha untuk memahami kondisi keluarga. Hanya untuk melihat anak-anaknya bahagia bersamanya.

“Hari ini mau masak apa?” pertanyaan ini sering disampaikan Mama kepadaku setiap hari.

Ada perasaan yang kurang enak ketika ingin menjawab pertanyaan ibu seperti itu, khawatir memberatkan. Kadang aku hanya menjawab “terserah Ma”, terkadang juga aku menginginkan lauk kesukaanku, “dadar jagung aja Ma”.

Apapun jawabku, selalu ada salah satu lauk kesukaanku tersaji dalam menu makan setiap harinya. Begitulah Mama, selalu ingin menyediakan sajian terbaiknya yang menyehatkan untuk keluarga. Memang tak semewah makanan di restoran ternama, sajian sederhananya menjadi keberkahan tersendiri bagi siapapun yang menikmatinya. Bahkan, Mama sering kali mengakhirkan makannya setelah semua orang di rumah telah selesai makan.

Suatu hari aku bertanya tentang Mama ke Akong, ayah dari Mama.

“Mama itu orangnya sabar dan lembut. Gak pernah nyalahin orang tua, sangat menghormati apa yang dikatakan orang tua dan tidak mau menyusahkan.”
kata Akong.
Memang benar perkataan Akong, Mama begitu sabar dalam mendidik anak-anaknya. Sejak dini, nilai-nilai Islam dan kemandirian mulai diajarkan. Hal itu semakin terasa ketika musim ujian tiba. Dengan sabar, Mama berusaha untuk membangunkanku disepertiga malam terakhir untuk shalat tahajud, meminta kemudahan kepada Dzat Yang Maha Memberi Kemudahan. Setiap shalat, Mama selalu memanjangkan sujud terakhirnya, memanjatkan doa untuk kebaikan anak-anakNya. Doa ibu bisa menembus langit, mengubah yang tak mungkin terjadi menjadi nyata.

Berkat doanya, segala urusan hidupku selalu diberi jalan terbaik oleh Dzat Yang Maha Mengatur. 
Berkat doanya, aku bisa lebih mengenal Islam dan mulai belajar menyebarkan kebenaran AgamaNya.
Berkat doanya, sejumlah ilmu, penghargaan dan pencapaian prestasi telah aku dapatkan selama ini.
Salah satu prestasi yang Mama banggakan ketika aku berhasil memperoleh beasiswa dari Sampoerna Foundation untuk melanjutkan sekolah berasrama di SMAN 10 Malang. Pergolakan batin terjadi saat itu, antara bangga dan sedih terlihat dari sosok Mama yang sabar, karena satu-satunya anak lelaki dalam keluarga akan pergi merantau ke luar kota. Meskipun dapat ditempuh hanya dengan waktu tujuh jam saja, tetapi begitu berat buat Mama.

“Hati-hati ya.” kata-kata lembut sederhananya selalu disampaikan baik ketika keberangkataku, melalui telpon atau pun hanya lewat sms. Pesan sederhana yang menyimpan arti yang sangat luar biasa, terdapat doa didalamnya. Untukku agar selalu mendapat lindunganNya dari hal-hal buruk yang dapat menimpa selama menuntut ilmu di kota Malang. Pesan sederhana itu tetap terus Mama sampaikan hingga kini aku meneruskan kuliah di kota yang sama.

Tidak hanya itu, kasih sayangnya juga dapat dilihat saat membekali stok makanan dan keperluan lain ketika aku akan kembali kota perantauan. Meskipun aku tak memintanya, Mama tetap akan menyiapkannya untukku.

Sifat Mama yang begitu menghormati dan tidak mau menyusahkan orang tuanya juga diajarkan kepada anak-anaknya. Selama diperantauan, ketika ada problematika dalam kehidupanku yang sekiranya bisa diselesaikan sendiri, tidak akan aku ceritakan ke Mama. Aku begitu paham, kekhawatiran Mama terhadapku begitu tinggi ketika posisiku jauh darinya. Oleh karena itu, sebisa mungkin aku hanya bisa berkeluh pada Dzat Yang Maha Mendengar dan berharap doaku kepada orang tua disetiap selesai shalat menjadi amalan yang bisa diterima olehNya.

Bagiku yang masih menjadi mahasiswa, cara terbaik untuk membalas jasa Mama adalah mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, berharap doa Mama sampai padaku dan doaku sampai kepadanya. Meskipun itu hanya membalas setitik rasa sakitnya ketika melahirkanku.

Ilmu dari Mama tentang kesabaran dan kelembutan dalam menjalani hidup menjadi pelajaran penting yang akan aku jadikan teladan. Aku sangat bangga memilikinya, sosok bermakna dimana surga berada dibawah kedua kainya yang tak ada duanya di dunia.
Maafkanlah saya Ma, pernah membuatmu kesal, marah, atau pun menangis. 
Maafkanlah saya Ma, yang sering membuatmu khawatir, dan tak hiraukan nasihatmu.

Terima kasih telah merawat, bersabar, dan memberikan kasih sayang. 
Terima kasih telah mengorbankan nyawa untuk masa depanku. 
Terima kasih telah menjadi ibuku, Ma.

Sungguh, kebahagiaan hidup tak lengkap tanpa restu dan doamu. 
Aku sangat bangga lahir dari rahimmu.

Semoga Allah selalu beri kesehatan dan kemudahan rezeki serta berkumpul kembali di jannahNya.
dari, Anakmu.

Banyuwangi, 29 Januari 2015

0 Response

Post a Comment

Silahkan berkomentar mengenai posting di atas. Terima kasih telah mengunjungi Excellent Education. Semoga Bermanfaat. :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel